Kesatuan Aksi Alumni Universitas Indonesia Nyatakan Sikap Dukung Prabowo Gibran

JAKARTA- Kesatuan aksi alumni universitas Indonesia (KA2UI) menyatakan sikap mendukung Paslon 02 Prabowo Gibran hal ini disampaikan langsung oleh seluruh anggota KA2UI.

Selain itu KA2UI merespon pernyataan sikap yang disampaikan oleh ketua dewan guru besar Universitas Indonesia prof Dr Harkristuti Harkrisnomo. “seluruh pernyataan yang diberikan sebanyak 4 poin, bukan di ruang diskusi, debat atau seminar tetapi disela Diesnatalis Universitas Indonesia yang di hadiri berbagi kalangan” tegas ketum KA2UI Prof Dr Kun Nurachadijat S.E, M.B.E

Ia menambahkan “penggunaan atribut keilumann, sekalipun itu melekat dengan pribadi masing-masing bercampur dengan mahasiswa dan alumni dalam kegiatan itu, terasa jauh sekali jauh dari nuansa akademis dan nilai-nilai dasar yang menjadi visi, misk dan tujuan universitas Indonesia” tambahnya.

alumni UI sekaligus pengacar senior muara melihat sosok Prabowo Gibran orang yang tepat untuk meneruskan pemerintahan Jokowi yang sudah menjalakan pemerintaha dengan baik, “saya berharap pemilu ini berjalan satu putaran, untuk kemenangan Paslon 02 Prabowo Gibran. ujar Muara Karta SH. M.H

Berikut 5 Pernyataan sikap yang disampaikan oleh Kesatuan Aksi Alumnin Universitas Indonesia (KA2UI) :

Pertama seluruh stakeholders dan shareholders politik, baik dalam bentuk lembaga negara, masyarakat sipil, hingga partai partai politik, perlu untuk melakukan rembug nasional pasca pemilihan umum 14 Februari 2024. Universitas Indonesia, dalam bentukn menahan diri untuk memberikan pernyataan-pernyataan yang provokatof dan kontra produktif bagi rakyat Indonesia.

Kedua setelah hampir seperempat abad, KA2UI menyarankan agar Majelis Permusyaratan Rakyat Republik Indonesia melakukan sidang untuk mengambil kesepakatan bagi amandemen terbatas Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, terutama menyangkut masalah-masalah mendasar bangsa dan negara yang di depan mata seperti perubahan iklim, belanja pertahanan, ketersediaan pangan, Hingga politik luar negeri. proses amanden ini sedari awal hingga akhir, wajib melibatkan civitas akademika perguruan tinggi, termasuk Universitas Indonesia.

Ketiga hari pemilihan umum bagi KA2UI sama nilainya dengan hari-hari ujian nasional, baik ketika masuk ke perguruan tinggi, ataupun ketika menamatkan satu jenjang pendidika. begitu bermakna bagi kalangan kampus menyangkut hari ujian skripsi, tesis, dan disertasi, begitu juga hari pemilihan umum yang dilakukan secara terbuka oleh seluruh warga negara Republik Indonesia yang memilih hak pilih. tiga hari penuh digunakan
sebagai hari tenang. sebagai insan akademis, KA2UI menghimbau seluruh civitas akademika Universitas Indonesia, baik yang berada di kampus atau luar kampus , agar ikut serta menjaga ketenangan itu dengan penuh hikmat. justru pihak-pihak yang melakukan kegiatan sebaiknya sama sekali tak hormat terhadap demokrasi, beserta seluruh proses pelembagaan tehadap substansi demokrasi itu.

Keempat Baik berlangsung sekali putaran (14 Feburi 2024) ataupun 2 putaran (26 Juni 2024) hasil pemilihan presiden akan memunculkan kekuatan-kekuatan politik dominan dan marginal. tidak ada sama sekali pihak yang disebut kalah atau menang, mengigat proses pengambilan keputusan melewati proses akademik kepada lembaga- lembaga demokrasi itu. otoritas dan wibawa ilmiah civitas akademika Universitas Indonesia akan sangat lemah, manakala aspirasi disalurkan tanpa tanggung jawab ke panggung dan punggung publik yang bersifat anomi.

Kelima terlepas dari segala kekurangannya, KA2UI menilai Presiden Joko Widodo sudah menjalankan fungsi sebagai Kepala Negara dan kepala pemerintahan dengan baik. tidak ada kelompok atau kekuatan non demokratis yang menjadi tempat Presiden Joko Widodo bersandar, terkecuali kehendak rakyat itu sendiri. proses kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden yang sudah, sedang dan akan berjalan, sama sekali tidak memperlihatkan pengunaan kekuasaan yang anti dekokrasin oleh lembaga kepresidenan. bahkan Presiden Joko Widodo terlihat berupaya melakukan edukasi kepada publik, walau sangat terbatas dari sisi waktu dan wacana, jadi, sungguh jauh amat berbeda antara apa yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo Jika hendak dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang disebut otoritarian, baik didalam negeri, atapundi luar negeri.
demikianlah pernyataan sikap di sampaikan bagi keberlangsungan nalar ilmu dalam relung Budi pekerti bangsa dan negara.